Romantisme Melemahkan?

Diposkan oleh Jimox

Tiba-tiba saja saya ingin membandingkan orang-orang yang berjiwa romantis, seperti para penulis sajak, roman, puisi, dan orang-orang yang berkarakter melankolis lainnya, dengan orang-orang berjiwa energik seperti para kontestan Djarum Black Motodify, Autoblackthrough, dan sejenisnya yang berkarakter koleris. Semula terlintas dalam bayangan saya bahwa perbandingan keduanya seperti perbandingan antara orang-orang cengeng dengan orang-orang kuat dan tangguh.

Seorang melankolis dengan segala kelembutan sangat mudah untuk menggunakan hatinya hingga ia terkadang tampak cengeng. Salahkah kepribadian mereka? Seorang koleris dengan segala kekuatan hati mereka tampak begitu keras dan kuat dalam memaknai hidup. Tak berhati kah mereka?

Saya rasa tidak ada yang salah dengan kedua karakter tersebut, setiap kepribadian memiliki sisi kelebihan masing-masing, dan yang terbaik memang belajar bagaimana kita bisa menguasai masing-masing keunggulan dari karakter-karakter tersebut, sehingga kita dapat menjadi seorang dengan kepribadian yang unggul. Yang tau bagaimana dan kapan harus bersikap sekuat orang-orang koleris, kapan saatnya kita harus selembut dan secermat orang-orang melankolis, kapan pula kita harus seceria orang-orang sanguinis, dan kapan juga kita harus bersikap sedamai orang-orang plegmatis.

Yang pasti kalau untuk orang-orang melankolis (berhubung saya belakangan sedang dominan melankolis^^) jangan sampai kita bersikap “membenarkan” anggapan bahwa karakter melankolis itu rapuh dan cengeng. Jangan sampai romantisme dan kecintaan melemahkan kita, karena memang melankolis terwujud sebagai jiwa yang halus dan cinta akan keindahan.

Buktikan bahwa melankolis mampu menjadi setegar karang dalam menghiasi dunia ini!




{ 0 komentar... read them below or add one }

Post a Comment